Petisi Batalkan Pelaksanaan TKA 2025: Kronologi, Alasan, dan Dampaknya pada Pendidikan Indonesia

Petisi Batalkan Pelaksanaan TKA 2025 Kronologi, Alasan, dan Dampaknya pada Pendidikan Indonesia

Petisi batalkan pelaksanaan TKA menjadi topik hangat di kalangan siswa dan orang tua sepanjang akhir 2025. Ribuan orang menandatangani tuntutan ini karena khawatir atas beban tambahan bagi pelajar. Meski demikian, tes ini tetap berjalan dan kini hasilnya sudah keluar. Mari kita bahas lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.

Apa Itu Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025?

Tes Kemampuan Akademik, atau TKA, adalah ujian standar yang dirancang untuk memetakan kemampuan siswa di Indonesia. Pemerintah meluncurkannya sebagai bagian dari reformasi pendidikan. Tujuannya sederhana: memberikan gambaran objektif tentang pencapaian akademik siswa di tingkat SMA, SMK, dan sederajat.

Selain itu, TKA 2025 bukan ujian wajib. Siswa bisa memilih ikut atau tidak. Namun, nilai dari tes ini sering jadi pertimbangan untuk seleksi masuk perguruan tinggi, seperti melalui jalur SNBP. Menurut situs resmi Kemendikdasmen, TKA mencakup mata pelajaran inti seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, plus pilihan sesuai jurusan. Pelaksanaannya berlangsung pada November 2025, dengan moda daring dan semi-daring untuk memudahkan akses.

Bagi saya, sebagai pengamat pendidikan, TKA punya potensi besar. Ini bisa jadi alat diagnostik yang membantu guru mengidentifikasi kelemahan siswa lebih dini. Tapi, implementasinya harus hati-hati agar tak menambah stres.

Munculnya Petisi Batalkan Pelaksanaan TKA

Petisi batalkan pelaksanaan TKA muncul seperti badai di media sosial. Dimulai oleh seorang siswa dengan akun “Siswa Agit” di platform Change.org pada 26 Oktober 2025. Dalam hitungan hari, petisi ini meraup lebih dari 200 ribu tanda tangan. Siswa merasa terkejut dengan pengumuman mendadak.

Oleh karena itu, petisi ini cepat viral. Banyak siswa berbagi cerita di Instagram dan TikTok tentang ketakutan mereka. Mereka anggap TKA hanya tambah beban di tengah jadwal sekolah yang padat. Petisi tolak TKA ini jadi simbol perlawanan generasi muda terhadap kebijakan yang dianggap kurang matang.

Alasan Utama di Balik Petisi Pembatalan TKA

Pertama, waktu persiapan terlalu singkat. Pengumuman resmi keluar pada 14 Juli 2025, tapi tes dijadwalkan 3 November. Siswa cuma punya sekitar tiga bulan untuk belajar. “Kami belum siap,” kata pembuat petisi.

Kedua, minim sosialisasi. Banyak sekolah tak punya fasilitas memadai untuk tes daring. Siswa di daerah pedesaan khawatir akses internet buruk. Selain itu, materi tes luas, mencakup seluruh kurikulum.

Ketiga, tekanan mental. Siswa kelas 12 sudah sibuk persiapan ujian sekolah dan masuk kuliah. TKA dianggap mempermainkan masa depan mereka. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Indonesia bilang, “TKA seharusnya untuk pemetaan, bukan syarat mutlak seleksi.” Pendapat ini saya setujui; tes seperti ini harus dukung, bukan hambat.

Dampak Petisi Tolak TKA pada Siswa

Petisi ini tak hanya kumpul tanda tangan. Ia picu diskusi nasional. Orang tua ikut campur, minta pemerintah dengar aspirasi. Namun, beberapa siswa justru termotivasi belajar lebih giat. Sayangnya, protes ini juga sebabkan kecemasan bertambah.

Respons Pemerintah terhadap Petisi Batalkan TKA

Meski petisi ramai, Kemendikdasmen tak goyah. Menteri Abdul Mu’ti bilang, “The show must go on!” Presiden pun setuju tes lanjut. Mereka tegas TKA bukan wajib, tapi bermanfaat untuk evaluasi.

Oleh karena itu, pelaksanaan berjalan lancar. Pada November 2025, jutaan siswa ikut tes. Kehadiran capai 98% di gelombang kedua. Pemerintah sediakan akomodasi untuk siswa berkebutuhan khusus, seperti soal tanpa grafik.

Bagi saya, respons ini tunjukkan komitmen reformasi. Tapi, mereka bisa lebih baik dengar masukan siswa sejak awal. Pakar seperti Toni Toharudin dari BSKAP bilang, evaluasi tetap dilakukan meski hasil jeblok.

Mengapa TKA 2025 Tak Dibatalkan?

Alasannya sederhana: TKA bagian dari Kurikulum Merdeka. Ia bantu petakan kemampuan siswa nasional. Pembatalan bisa ganggu rencana panjang pendidikan. Meski petisi capai 239 ribu tanda tangan, pemerintah pilih lanjut dengan perbaikan.

Hasil TKA 2025 dan Evaluasi Pasca Pelaksanaan

Hasil TKA 2025 keluar pada Desember 2025. Sertifikat distribusi mulai Januari 2026. Sayangnya, nilai rata-rata tak memuaskan. Banyak siswa jeblok di matematika dan sains.

Selain itu, Kemendikdasmen akui perlu ubah pelatihan guru. Proses belajar harus lebih interaktif. Hasil ini jadi bahan refleksi. Seorang pengamat bilang, “TKA ungkap celah kurikulum.”

Cara Cek Hasil TKA dan Implikasinya

Siswa bisa cek melalui situs tka.kemendikdasmen.go.id. Implikasinya besar: nilai TKA pengaruh eligibilitas SNBP 2026. Bagi yang jeblok, ini pelajaran untuk perbaiki diri.

Saya opini, hasil ini positif jika jadi dorongan perubahan. Jangan salahkan siswa; sistem pendidikan butuh revamp.

Refleksi Kritis dari Hasil TKA

Hasil tunjukkan progres di bahasa, tapi lemah di logika. Ini picu diskusi tentang Kurikulum Merdeka. Pakar sarankan integrasi teknologi dalam belajar.

Pendapat Pakar tentang Petisi dan TKA

Banyak pakar dukung petisi batalkan pelaksanaan TKA awalnya. Seorang pengamat dari BBC bilang, pemerintah harus konsisten: TKA untuk pemetaan, bukan seleksi. Ini hindari kecurangan.

Namun, setelah pelaksanaan, opini bergeser. Toni Toharudin tekankan perubahan paradigma guru. Saya setuju; guru kunci sukses TKA.

Opini Saya sebagai Ahli Pendidikan

Dari pengalaman saya, petisi ini valid. Siswa butuh waktu adaptasi. Tapi, TKA perlu untuk standarisasi. Solusinya: sosialisasi lebih dini dan dukungan mental.

Dampak Petisi Batalkan Pelaksanaan TKA bagi Siswa dan Pendidikan

Petisi ini ubah cara siswa suarakan pendapat. Kini, lebih banyak diskusi online tentang kebijakan. Dampak positif: pemerintah lebih waspada.

Oleh karena itu, pendidikan Indonesia maju. TKA bantu identifikasi masalah, seperti kesenjangan daerah. Bagi siswa, ini pengalaman berharga tentang advocasi.

Tantangan ke Depan setelah TKA 2025

Tantangan utama: tingkatkan infrastruktur. Daerah terpencil butuh akses lebih baik. Selain itu, integrasikan TKA dengan karir siswa.

Pelajaran dari Petisi Tolak TKA

Pelajaran besar: dengar suara siswa. Ini buat kebijakan lebih inklusif.

Kesimpulan: Menuju Pendidikan yang Lebih Baik

Petisi batalkan pelaksanaan TKA 2025 ajarkan kita tentang keseimbangan antara reformasi dan kesiapan. Meski tak dibatalkan, ia picu perbaikan. Siswa, terus belajar. Pemerintah, dengar aspirasi. Bersama, kita bangun pendidikan berkualitas.

REFERENSI: JAMUWIN78